Ekonomi Jalan Tengah Yudhoyono
Pertumbuhan dan pemerataan itu berjalan bersamaan dengan kekuatan pasar.
Jum'at, 5 Juni 2009, 10:54 WIB
Siswanto
Yudhoyono didampingi Anas Urbaningrum (kiri) dan Hadi Utomo (kanan) (Biro Pers Istana Presiden/Dudi Anung)

VIVAnews – Pidato pertama calon presiden incumbent, Susilo Bambang Yudhoyono, dalam kampanye pemilihan presiden 2009 menekankan penerapan ekonomi jalan tengah, pertumbuhan dengan pemerataan, dan menolak kapitalisme absolut.

Ketua DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, menjelaskan inti pidato Yudhoyono itu ialah untuk mengatakan bahwa negara tetap melakukan intervensi ekonomi. Tapi dilakukan dengan mengedepankan asas keadilan.

“Jadi tidak diserahkan kepada pasar karena itu karakter kapitalisme absolut, atau  yang orang bilang neozep itu (neoliberalisme),” kata Anas, kepada VIVAnews, Jumat 5 Juni 2009.

Intervensi ekonomi yang dimaksud Anas bukan berarti di bawah komando negara sepenuhnya karena pasar harus tetap berkembang sesuai mekanismenya untuk mendorong pertumbuhan.

Secara sederhana, Anas mengatakan pertumbuhan dan pemerataan itu berjalan bersamaan dengan kekuatan pasar dan intervensi negara di ramu menjadi satu. Itulah yang kemudian menjadi istilah jalan tengah yang digunakan Yudhoyono.

“Karena itu kebijakan-kebijakan pro rakyat itu bukan saja dilanjutkan,  tapi di tingkatkan skalanya, di perbesar volumenya,” kata Anas.

Dia menyontohkan cakupan kecamatan PNPM mandiri diperluas dan angkanya perkecamatan juga ditingkatkan. Kemudian program BLT dilanjutkan dengan penyempurnaan akurasi data. Program BOS, Jamkesmas, program keluarga garapan dilanjutkan.

“Dan banyak lagi yang lain yang dilanjutkan, ini sebagian bentuk intervensi negara  secara adil,” kata dia.

• VIVAnews

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Nama
Email
Komentar
Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
Jika anda member Vivanews, silahkan login, atau Daftar ID anda.